Pilu Petani
Tanah airku, tanah yang subur, kaya makmur
Jangan menjadi sejarah dilirik lagu nyiur hijau
Biarkan padi mengembang
Kuning merayu
Menjadi permai nyata di tanah airku
Jangan biarkan lahanku menghilang
Tergantikan pengembangan industri besar-besaran
Jangan rampas permadani hijauku
Dengan bangunan pencakar langitmu
Jangan hilangkan kedaulatan petaniku
Dengan kegilaan keuntunganmu
Jangan rusak hutan, air dan lingkunganku
Hanya karena memuaskan ketamakanmu
Kecil,
Kau tega melihatku sebelah mata
Kau hitung pendapatanku yang tak seberapa ini
Kau seakan jijik melihat pakaian lusuh ku
Tanpa kau tau sabit telah merenggut keelokan jariku
Matahari telah membakar kulitku
Dan nasi yang terhidang dimeja makan besarmu adalah hasil dari kerja kerasku
Ada cucuran keringatku disetiap piringmu
Tapi kau bahkan tak sudi menjabat tanganku
Tangan kasar sedikit kapalan yang sudah pasti tak seelok tanganmu yang duduk manis diruang ber AC
Kini,
Semuanya seakan hancur dengan perlahan
Racun-racun bermunculan
Ketika orang-orang itu muncul dengan topeng persahabatan
Merampas masa depan dan masa muda anak-anakku
Menjanjikan kedamaian
Namun hanya menyesatkan
Menjadikannya budak-budak setan
Yang rela membunuh teman-temannya sendiri
Tak dengar Isak tangis Ayah Bundanya
Hatiku terisak
Banyak hati yang menjadi buta
Tak ada lagi bercita-cita menjadi petani
Penulis : Nur Halisa
Editor : Tim Anotasiar.ID
*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Ilmu Ekonomi Semester V



