Anotasiar.ID
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman
No Result
View All Result
  • Login
Anotasiar.ID
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman
No Result
View All Result
  • Login
Anotasiar.ID
Puisi
21 Oktober 2020

Puisi: Pilu Petani

HMJ-IE
Puisi

Puisi: Pilu Petani

HMJ-IE
21 Oktober 2020
Puisi: Pilu Petani

Ilustrasi Penulis, Nur Halisa. Anotasiar.ID

Pilu Petani

Tanah airku, tanah yang subur, kaya makmur
Jangan menjadi sejarah dilirik lagu nyiur hijau
Biarkan padi mengembang
Kuning merayu
Menjadi permai nyata di tanah airku

Jangan biarkan lahanku menghilang
Tergantikan pengembangan industri besar-besaran
Jangan rampas permadani hijauku
Dengan bangunan pencakar langitmu
Jangan hilangkan kedaulatan petaniku
Dengan kegilaan keuntunganmu
Jangan rusak hutan, air dan lingkunganku
Hanya karena memuaskan ketamakanmu

Kecil,
Kau tega melihatku sebelah mata
Kau hitung pendapatanku yang tak seberapa ini
Kau seakan jijik melihat pakaian lusuh ku
Tanpa kau tau sabit telah merenggut keelokan jariku
Matahari telah membakar kulitku
Dan nasi yang terhidang dimeja makan besarmu adalah hasil dari kerja kerasku
Ada cucuran keringatku disetiap piringmu
Tapi kau bahkan tak sudi menjabat tanganku
Tangan kasar sedikit kapalan yang sudah pasti tak seelok tanganmu yang duduk manis diruang ber AC

BACA JUGA

Mahasiswa di Hantui Pembungkaman

Puisi: Manifestasi Puisi

Kini,
Semuanya seakan hancur dengan perlahan
Racun-racun bermunculan
Ketika orang-orang itu muncul dengan topeng persahabatan
Merampas masa depan dan masa muda anak-anakku
Menjanjikan kedamaian
Namun hanya menyesatkan
Menjadikannya budak-budak setan
Yang rela membunuh teman-temannya sendiri
Tak dengar Isak tangis Ayah Bundanya

Hatiku terisak
Banyak hati yang menjadi buta
Tak ada lagi bercita-cita menjadi petani

Penulis : Nur Halisa
Editor   : Tim Anotasiar.ID

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Ilmu Ekonomi Semester V

Pilu Petani

Tanah airku, tanah yang subur, kaya makmur
Jangan menjadi sejarah dilirik lagu nyiur hijau
Biarkan padi mengembang
Kuning merayu
Menjadi permai nyata di tanah airku

Jangan biarkan lahanku menghilang
Tergantikan pengembangan industri besar-besaran
Jangan rampas permadani hijauku
Dengan bangunan pencakar langitmu
Jangan hilangkan kedaulatan petaniku
Dengan kegilaan keuntunganmu
Jangan rusak hutan, air dan lingkunganku
Hanya karena memuaskan ketamakanmu

Kecil,
Kau tega melihatku sebelah mata
Kau hitung pendapatanku yang tak seberapa ini
Kau seakan jijik melihat pakaian lusuh ku
Tanpa kau tau sabit telah merenggut keelokan jariku
Matahari telah membakar kulitku
Dan nasi yang terhidang dimeja makan besarmu adalah hasil dari kerja kerasku
Ada cucuran keringatku disetiap piringmu
Tapi kau bahkan tak sudi menjabat tanganku
Tangan kasar sedikit kapalan yang sudah pasti tak seelok tanganmu yang duduk manis diruang ber AC

BACA JUGA

Mahasiswa di Hantui Pembungkaman

Puisi: Manifestasi Puisi

Kini,
Semuanya seakan hancur dengan perlahan
Racun-racun bermunculan
Ketika orang-orang itu muncul dengan topeng persahabatan
Merampas masa depan dan masa muda anak-anakku
Menjanjikan kedamaian
Namun hanya menyesatkan
Menjadikannya budak-budak setan
Yang rela membunuh teman-temannya sendiri
Tak dengar Isak tangis Ayah Bundanya

Hatiku terisak
Banyak hati yang menjadi buta
Tak ada lagi bercita-cita menjadi petani

Penulis : Nur Halisa
Editor   : Tim Anotasiar.ID

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Ilmu Ekonomi Semester V

Tag: PuisiPuisi Petani

ARTIKEL TERKAIT

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

29 April 2022

Resensi Buku: Kita Semua Harus Menjadi Feminis!

26 April 2022

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

26 Maret 2022

Pimpinan FEBI Batasi Akses Berkegiatan Di Luar Kampus dan Blokir Anggaran Ormawa FEBI

25 Maret 2022

Aku dan Kisahnya

24 Maret 2022

Populer

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

Resensi Buku: Kita Semua Harus Menjadi Feminis!

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

Pimpinan FEBI Batasi Akses Berkegiatan Di Luar Kampus dan Blokir Anggaran Ormawa FEBI

Aku dan Kisahnya

Dokumentasi Rapat Kerja HMJ Ilmu Ekonomi Periode 2022

Kirim Tulisan Jadilah bagian dan terlibat untuk perubahan dengan ikut berdiskusi dan berbagi gagasan kritis, edukatif dan progresif di anotasiar...» Kirim tulisanmu
Explore
Kolom
About Us
Search
Artikel Berikutnya
Mahasiswa Dalam Cengkraman Budaya Hedonisme

Mahasiswa Dalam Cengkraman Budaya Hedonisme

Menilik Nasib Kaum Urban Dari Kisah Mama Rannu

Menilik Nasib Kaum Urban Dari Kisah Mama Rannu

Elite Rekonsiliasi, FPI Dibubarkan: Oposisi Mati di Negeri Demokrasi

Elite Rekonsiliasi, FPI Dibubarkan: Oposisi Mati di Negeri Demokrasi

Unit Penerbitan dan Pers Mahasiswa

HMJ Ilmu Ekonomi UIN Alauddin Makassar

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Kontak Kami

© anotasiar.id. All rights reserved

Explore
Kolom
About Us
Search
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman

© anotasiar. All rights reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist