Anotasiar.ID
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman
No Result
View All Result
  • Login
Anotasiar.ID
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman
No Result
View All Result
  • Login
Anotasiar.ID
Reportase
18 November 2020

Menilik Nasib Kaum Urban Dari Kisah Mama Rannu

HMJ-IE
Reportase

Menilik Nasib Kaum Urban Dari Kisah Mama Rannu

HMJ-IE
18 November 2020
Menilik Nasib Kaum Urban Dari Kisah Mama Rannu

Tim C, A. dari Kelas Riset Lapangan HMJ Ilmu Ekonomi.

Seorang nenek, Mama Rannu 70an Tahun, Kecamatan Manggala Kota Makassar, hingga kini bertahan hidup dari hasil memulung di Kawasan pembuangan tempat sampah Jln. Tun Abdul Razak.

Berdasarkan pengamatan Tim, Minggu (08/11/2020), Mama Rannu yang kesehariannya melakukan aktivitas untuk mengumpulkan plastik air kemasan, kardus maupun berbagai macam benda lainnya yang masih bisa digunakan sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup di pinggiran perkotaan.

Kami bertiga mengendarai dua sepeda motor menepikan kendaraan tepat di kawasan pembuangan sampah lalu menemui Mama Rannu yang sedang memilah-milah sampah, lalu kami mulai mengajaknya berbincang dengan respon yang baik Mama Rannu menyarankan untuk berbincang di tempat yang tidak terlalu dijangkau oleh bau sampah.

Meski bertahan hidup dari hasil penjualan plastik dan kardus, Mama Rannu tidak pernah mengeluh. Setiap hari jam 13.00 Wita, Mama Rannu menggayuh becaknya dari rumahnya di Jl. Inspeksi Kanal Tamangapa sebagai tempat tinggalnya menuju ke kawasan pembuangan sampah.

BACA JUGA

Pimpinan FEBI Batasi Akses Berkegiatan Di Luar Kampus dan Blokir Anggaran Ormawa FEBI

Dekan FEBI Tidur Saat Ingin Ditemui, Mahasiswa Coba ‘Bangunkan’ dengan Berorasi, Bernyanyi dan Berpuisi

“Jadi ini kardusku cukup 5 ikat saya jual biasaka dapat Rp 100.000 lebih. Ya terkumpul 5 ikat tidak menentu bulannya kalau cukupmi 5 ikat saya jual, dari pengikatnaji kalau beratki. Itumi kukasi beli beras,” tutur Mama Rannu menjalaskan sumber pendapatannya.

Mama Rannu yang hanya menumpang mendirikan gubuk sebagai tempat tinggal dengan putra sematawayangnya di tempat pengepul kardus bekas, sekarang pengepul sampah itu sedang memperpanjang sewa. Mama rannu dan putranya sudah mendiami tempat tersebut selama lebih 6 tahun.

“Tanahnya orang yang na kontrak, dia yang kontrak saya minta tolong di situ bisaka bangun rumah, kalo lama-lama ki bos kontrak di situ lama-lama ki juga, tapi kalo sebentar, ndak tauki bagaimana nanti, kita cari lagilah, kalo memang tidak ada jalan lain biarmi, tanahnya orang kita pinjam pinjam dulu”. Tutur mama rannu.

Mama rannu merupakan masyarakat urban yang berasal dari Kabupaten Gowa, Kecamatan Tinggimoncong, Kelurahan Malino, yang sebelumnya Mama Rannu bekerja sebagai petani kopi ataupun jagung tetapi karena lahan yang digarap diambil alih oleh tantenya. Ketiadaan lahan yang bisa di garap oleh Mama Rannu akhirnnya pada tahun 1965 Mama Rannu merantau ke Makassar atas ajakan pamannya yang mempekerjakan sebagai pengasuh anak.

Setelah berselang sepuluh tahun berada di Makassar hadir suatu kondisi yang membuat mama rannu dan pamannya tidak lagi bisa tinggal bersama. Semenjak Mama Rannu meninggalkan kampung halamannya, mama rannu terbilang lumayan sering pulang kampung sekedar bersiarah kubur di hari raya idul fitri maupun idul adha, namun dua tahun terakhir mama rannu tidak pulang kampung siarah kubur, entah itu terkendala biaya atau fisik yang kian melemah.

Saat mama rannu menceritakan mengenai kampung halamannya dengan mata yang sayu agak berkaca kaca seolah menyampaikan secara tersirat kerinduan akan kampung halaman yang sudah dua tahun tidak dikunjunginya.

Penulis : Tim C dari Kelas Riset Lapangan HMJ Ilmu Ekonomi
Editor   : Tim Anotasiar.ID

Seorang nenek, Mama Rannu 70an Tahun, Kecamatan Manggala Kota Makassar, hingga kini bertahan hidup dari hasil memulung di Kawasan pembuangan tempat sampah Jln. Tun Abdul Razak.

Berdasarkan pengamatan Tim, Minggu (08/11/2020), Mama Rannu yang kesehariannya melakukan aktivitas untuk mengumpulkan plastik air kemasan, kardus maupun berbagai macam benda lainnya yang masih bisa digunakan sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup di pinggiran perkotaan.

Kami bertiga mengendarai dua sepeda motor menepikan kendaraan tepat di kawasan pembuangan sampah lalu menemui Mama Rannu yang sedang memilah-milah sampah, lalu kami mulai mengajaknya berbincang dengan respon yang baik Mama Rannu menyarankan untuk berbincang di tempat yang tidak terlalu dijangkau oleh bau sampah.

Meski bertahan hidup dari hasil penjualan plastik dan kardus, Mama Rannu tidak pernah mengeluh. Setiap hari jam 13.00 Wita, Mama Rannu menggayuh becaknya dari rumahnya di Jl. Inspeksi Kanal Tamangapa sebagai tempat tinggalnya menuju ke kawasan pembuangan sampah.

BACA JUGA

Pimpinan FEBI Batasi Akses Berkegiatan Di Luar Kampus dan Blokir Anggaran Ormawa FEBI

Dekan FEBI Tidur Saat Ingin Ditemui, Mahasiswa Coba ‘Bangunkan’ dengan Berorasi, Bernyanyi dan Berpuisi

“Jadi ini kardusku cukup 5 ikat saya jual biasaka dapat Rp 100.000 lebih. Ya terkumpul 5 ikat tidak menentu bulannya kalau cukupmi 5 ikat saya jual, dari pengikatnaji kalau beratki. Itumi kukasi beli beras,” tutur Mama Rannu menjalaskan sumber pendapatannya.

Mama Rannu yang hanya menumpang mendirikan gubuk sebagai tempat tinggal dengan putra sematawayangnya di tempat pengepul kardus bekas, sekarang pengepul sampah itu sedang memperpanjang sewa. Mama rannu dan putranya sudah mendiami tempat tersebut selama lebih 6 tahun.

“Tanahnya orang yang na kontrak, dia yang kontrak saya minta tolong di situ bisaka bangun rumah, kalo lama-lama ki bos kontrak di situ lama-lama ki juga, tapi kalo sebentar, ndak tauki bagaimana nanti, kita cari lagilah, kalo memang tidak ada jalan lain biarmi, tanahnya orang kita pinjam pinjam dulu”. Tutur mama rannu.

Mama rannu merupakan masyarakat urban yang berasal dari Kabupaten Gowa, Kecamatan Tinggimoncong, Kelurahan Malino, yang sebelumnya Mama Rannu bekerja sebagai petani kopi ataupun jagung tetapi karena lahan yang digarap diambil alih oleh tantenya. Ketiadaan lahan yang bisa di garap oleh Mama Rannu akhirnnya pada tahun 1965 Mama Rannu merantau ke Makassar atas ajakan pamannya yang mempekerjakan sebagai pengasuh anak.

Setelah berselang sepuluh tahun berada di Makassar hadir suatu kondisi yang membuat mama rannu dan pamannya tidak lagi bisa tinggal bersama. Semenjak Mama Rannu meninggalkan kampung halamannya, mama rannu terbilang lumayan sering pulang kampung sekedar bersiarah kubur di hari raya idul fitri maupun idul adha, namun dua tahun terakhir mama rannu tidak pulang kampung siarah kubur, entah itu terkendala biaya atau fisik yang kian melemah.

Saat mama rannu menceritakan mengenai kampung halamannya dengan mata yang sayu agak berkaca kaca seolah menyampaikan secara tersirat kerinduan akan kampung halaman yang sudah dua tahun tidak dikunjunginya.

Penulis : Tim C dari Kelas Riset Lapangan HMJ Ilmu Ekonomi
Editor   : Tim Anotasiar.ID

Tag: Reportase

ARTIKEL TERKAIT

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

29 April 2022

Resensi Buku: Kita Semua Harus Menjadi Feminis!

26 April 2022

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

26 Maret 2022

Pimpinan FEBI Batasi Akses Berkegiatan Di Luar Kampus dan Blokir Anggaran Ormawa FEBI

25 Maret 2022

Aku dan Kisahnya

24 Maret 2022

Populer

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

Resensi Buku: Kita Semua Harus Menjadi Feminis!

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

Pimpinan FEBI Batasi Akses Berkegiatan Di Luar Kampus dan Blokir Anggaran Ormawa FEBI

Aku dan Kisahnya

Dokumentasi Rapat Kerja HMJ Ilmu Ekonomi Periode 2022

Kirim Tulisan Jadilah bagian dan terlibat untuk perubahan dengan ikut berdiskusi dan berbagi gagasan kritis, edukatif dan progresif di anotasiar...» Kirim tulisanmu
Explore
Kolom
About Us
Search
Artikel Berikutnya
Elite Rekonsiliasi, FPI Dibubarkan: Oposisi Mati di Negeri Demokrasi

Elite Rekonsiliasi, FPI Dibubarkan: Oposisi Mati di Negeri Demokrasi

Upaya Meretas Kapitalisme: Islam Sebagai Gerakan Pembebasan

Upaya Meretas Kapitalisme: Islam Sebagai Gerakan Pembebasan

Upaya Meretas Kapitalisme: Islam Sebagai Gerakan Pembebasan

Miskin karena Kurang Beribadah? Kesalahan Berpikir dan Berbahaya

Unit Penerbitan dan Pers Mahasiswa

HMJ Ilmu Ekonomi UIN Alauddin Makassar

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Kontak Kami

© anotasiar.id. All rights reserved

Explore
Kolom
About Us
Search
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman

© anotasiar. All rights reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist