Anotasiar.ID
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman
No Result
View All Result
  • Login
Anotasiar.ID
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman
No Result
View All Result
  • Login
Anotasiar.ID
Opini
17 November 2020

Mahasiswa Dalam Cengkraman Budaya Hedonisme

HMJ-IE
Opini

Mahasiswa Dalam Cengkraman Budaya Hedonisme

HMJ-IE
17 November 2020
Mahasiswa Dalam Cengkraman Budaya Hedonisme

Tim A dari Kelas Riset Lapangan HMJ Ilmu Ekonomi.

Sebagai kaum terpelajar, mahasiswa sejatinya memiliki peran dan fungsi yang fundamental dalam kehidupanya sebagai suatu bagian dari masyarakat. Umumnya mahasiswa adalah seseorang yang memilih untuk melanjutkan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan harapan setelah menyelesaikan proses akademik selama berstatuskan mahasiswa disalah satu perguruan tinggi akan lebih mudah untuk memperoleh pekerjaan nantinya dengan bermodalkan selembar ijazah. Menurut UU No. 12 Tahun 2012 Mahasiswa merupakan seseorang yang terdaftar namanya di perguruan tinggi baik negeri ,maupun swasta.

Kampus menjadi ruang dalam menjalankan aktivitas produktif sebagai upaya mengembangkan ilmu pengetahuan, baik itu dalam proses perkuliahan maupun aktivitas lainnya, misalnya kajian keilmuan yang diseleggarakan organisasi-organisasi kemahasiswaan. Mayoritas mahasiswa baru setiap tahunnya berasal dari desa-desa yang kemudian memilih melanjutkan kuliah di kota dengan berbagai pertimbangan, salah satunya ingin mendapatkan pengalaman baru.

Lingkungan kota berpotensi besar dalam mempengaruhi pola hidup kita, mulai dari gaya bahasa, penampilan, cara berpakaian, bahkan makanan yang dikonsumsi. Perubahan gaya hidup oleh mahasiswa yang berasal dari desa dikarenakan lingkungan desa dan kota yang berbeda, misalnya cafe-cafe, pusat perbelanjaan atau mall, serta pola hidup modern yang tersaji di kota yang mempengaruhi gaya hidup mahasiswa bahkan mengubah perilaku konsumsi.

Setiap mahasiswa memiliki cara tersendiri dalam menentukan gaya hidup. Gaya hidup menunjukan bagaimana seseorang mengatur kehidupan pribadinya baik itu di masyarakat maupun didepan umum. Ada banyak karakter yang sering kita dapati dikalangan mahasiswa seperti halnya mahasiswa hedonis, akademis, aktivis, apatis, hingga humoris.

BACA JUGA

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

Ideologi Aparatus State

Hedonis telah melekat pada gaya hidup sekelompok mahasiswa yang dipengaruhi lingkungan kota yang serba modern. Mahasiswa yang tergolong hedonis cenderung sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sehingga berdampak pada pola konsumtif yang tidak lagi berasaskan kebutuhan serta hanya mengedepankan eksistensi tanpa memperhatikan esensi sebagai mahasiswa. Misalnya seorang mahasiswa membeli sepatu yang sedang trend dan banyak dipakai oleh temannya, padahal ia masih memiliki sepatu yang layak pakai.

hal tersebut dikonfirmasi oleh Wahidin, salah satu mahasiswa dari Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, mengatakan “kebanyakan mahasiswa yang tergolong dalam lingkungan hedonis merupakan mahasiswa yang terpengaruh dari lingkungan dan teman-temannya, hingga merasa tidak percaya diri dengan kondisinya serta tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarganya”.

Apa yang disampaikan Wahidin menjadi salah satu dampak negatif dari budaya hedonisme. Berkembangnya modernisasi berjalan beriringan dengan konstruksi hedonisme yang semakin melekat pada mahasiswa, dimana sekelompok mahasiswa yang terjerumus dalam budaya hedonisme dikaburkan cara pandangnya dalam melihat kebutuhan dan keinginan.

Salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kota Makassar tak terhindarkan dari budaya yang merusak karakter mahasiswa tersebut. Takbir, salah satu mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora Uin Alauddin Makassar memberikan pandangannya terhadap budaya hedonisme.

Ia beranggapan bahwa “Gaya hidup mahasiswa hedonis itu cenderung apatis, dimana hal tersebut telah merubah esensi dari mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa dituntut untuk memiliki pemikiran yang kritis, sebagaimana mahasiswa itu boleh dibilang ‘tuhan kedua’ dari ‘tuhan pertama’ yang dengan entengnya menyandang gelar ‘Maha’. Dimana mahasiswa hedonis itu tidak lagi memiliki pandangan kritis terhadap kondisi sosial, sebab kebiasaan dan pola hidup hedonis telah mengkonstruk esensi dari mahasiswa”.

Pada dasarnya lingkungan berperan penting terhadap budaya hedonisme dikalangan mahasiswa, utamanya sekelompok mahasiswa yang mempengaruhi mahasiswa lainnya dalam budaya yang mengganggu aktivitas produktif yang seharusnya dijalankan oleh mahasiswa. Mahasiswa yang katanya agen of change seharusnya menjadikan kampus sebagai wadah dalam memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman sebagai media dalam upaya menyampaikan aspirasi masyarakat.

Kondisi mahasiswa hari ini telah menggambarkan bagaimana hedonisme membawa mahasiswa ke jurang degradasi secara signifikan, bahwa hari ini hedonisme telah menjauhkan mahasiswa dari peran dan fungsinya, salah satunya memiliki pandangan kritis dalam melihat fenomena sosial.

Penulis : Tim A, dari Kelas Riset Lapangan HMJ Ilmu Ekonomi
Editor   : Tim Anotasiar.ID

Sebagai kaum terpelajar, mahasiswa sejatinya memiliki peran dan fungsi yang fundamental dalam kehidupanya sebagai suatu bagian dari masyarakat. Umumnya mahasiswa adalah seseorang yang memilih untuk melanjutkan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan harapan setelah menyelesaikan proses akademik selama berstatuskan mahasiswa disalah satu perguruan tinggi akan lebih mudah untuk memperoleh pekerjaan nantinya dengan bermodalkan selembar ijazah. Menurut UU No. 12 Tahun 2012 Mahasiswa merupakan seseorang yang terdaftar namanya di perguruan tinggi baik negeri ,maupun swasta.

Kampus menjadi ruang dalam menjalankan aktivitas produktif sebagai upaya mengembangkan ilmu pengetahuan, baik itu dalam proses perkuliahan maupun aktivitas lainnya, misalnya kajian keilmuan yang diseleggarakan organisasi-organisasi kemahasiswaan. Mayoritas mahasiswa baru setiap tahunnya berasal dari desa-desa yang kemudian memilih melanjutkan kuliah di kota dengan berbagai pertimbangan, salah satunya ingin mendapatkan pengalaman baru.

Lingkungan kota berpotensi besar dalam mempengaruhi pola hidup kita, mulai dari gaya bahasa, penampilan, cara berpakaian, bahkan makanan yang dikonsumsi. Perubahan gaya hidup oleh mahasiswa yang berasal dari desa dikarenakan lingkungan desa dan kota yang berbeda, misalnya cafe-cafe, pusat perbelanjaan atau mall, serta pola hidup modern yang tersaji di kota yang mempengaruhi gaya hidup mahasiswa bahkan mengubah perilaku konsumsi.

Setiap mahasiswa memiliki cara tersendiri dalam menentukan gaya hidup. Gaya hidup menunjukan bagaimana seseorang mengatur kehidupan pribadinya baik itu di masyarakat maupun didepan umum. Ada banyak karakter yang sering kita dapati dikalangan mahasiswa seperti halnya mahasiswa hedonis, akademis, aktivis, apatis, hingga humoris.

BACA JUGA

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

Ideologi Aparatus State

Hedonis telah melekat pada gaya hidup sekelompok mahasiswa yang dipengaruhi lingkungan kota yang serba modern. Mahasiswa yang tergolong hedonis cenderung sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sehingga berdampak pada pola konsumtif yang tidak lagi berasaskan kebutuhan serta hanya mengedepankan eksistensi tanpa memperhatikan esensi sebagai mahasiswa. Misalnya seorang mahasiswa membeli sepatu yang sedang trend dan banyak dipakai oleh temannya, padahal ia masih memiliki sepatu yang layak pakai.

hal tersebut dikonfirmasi oleh Wahidin, salah satu mahasiswa dari Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, mengatakan “kebanyakan mahasiswa yang tergolong dalam lingkungan hedonis merupakan mahasiswa yang terpengaruh dari lingkungan dan teman-temannya, hingga merasa tidak percaya diri dengan kondisinya serta tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarganya”.

Apa yang disampaikan Wahidin menjadi salah satu dampak negatif dari budaya hedonisme. Berkembangnya modernisasi berjalan beriringan dengan konstruksi hedonisme yang semakin melekat pada mahasiswa, dimana sekelompok mahasiswa yang terjerumus dalam budaya hedonisme dikaburkan cara pandangnya dalam melihat kebutuhan dan keinginan.

Salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kota Makassar tak terhindarkan dari budaya yang merusak karakter mahasiswa tersebut. Takbir, salah satu mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora Uin Alauddin Makassar memberikan pandangannya terhadap budaya hedonisme.

Ia beranggapan bahwa “Gaya hidup mahasiswa hedonis itu cenderung apatis, dimana hal tersebut telah merubah esensi dari mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa dituntut untuk memiliki pemikiran yang kritis, sebagaimana mahasiswa itu boleh dibilang ‘tuhan kedua’ dari ‘tuhan pertama’ yang dengan entengnya menyandang gelar ‘Maha’. Dimana mahasiswa hedonis itu tidak lagi memiliki pandangan kritis terhadap kondisi sosial, sebab kebiasaan dan pola hidup hedonis telah mengkonstruk esensi dari mahasiswa”.

Pada dasarnya lingkungan berperan penting terhadap budaya hedonisme dikalangan mahasiswa, utamanya sekelompok mahasiswa yang mempengaruhi mahasiswa lainnya dalam budaya yang mengganggu aktivitas produktif yang seharusnya dijalankan oleh mahasiswa. Mahasiswa yang katanya agen of change seharusnya menjadikan kampus sebagai wadah dalam memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman sebagai media dalam upaya menyampaikan aspirasi masyarakat.

Kondisi mahasiswa hari ini telah menggambarkan bagaimana hedonisme membawa mahasiswa ke jurang degradasi secara signifikan, bahwa hari ini hedonisme telah menjauhkan mahasiswa dari peran dan fungsinya, salah satunya memiliki pandangan kritis dalam melihat fenomena sosial.

Penulis : Tim A, dari Kelas Riset Lapangan HMJ Ilmu Ekonomi
Editor   : Tim Anotasiar.ID

Tag: Opini

ARTIKEL TERKAIT

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

29 April 2022

Resensi Buku: Kita Semua Harus Menjadi Feminis!

26 April 2022

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

26 Maret 2022

Pimpinan FEBI Batasi Akses Berkegiatan Di Luar Kampus dan Blokir Anggaran Ormawa FEBI

25 Maret 2022

Aku dan Kisahnya

24 Maret 2022

Populer

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

Resensi Buku: Kita Semua Harus Menjadi Feminis!

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

Pimpinan FEBI Batasi Akses Berkegiatan Di Luar Kampus dan Blokir Anggaran Ormawa FEBI

Aku dan Kisahnya

Dokumentasi Rapat Kerja HMJ Ilmu Ekonomi Periode 2022

Kirim Tulisan Jadilah bagian dan terlibat untuk perubahan dengan ikut berdiskusi dan berbagi gagasan kritis, edukatif dan progresif di anotasiar...» Kirim tulisanmu
Explore
Kolom
About Us
Search
Artikel Berikutnya
Menilik Nasib Kaum Urban Dari Kisah Mama Rannu

Menilik Nasib Kaum Urban Dari Kisah Mama Rannu

Elite Rekonsiliasi, FPI Dibubarkan: Oposisi Mati di Negeri Demokrasi

Elite Rekonsiliasi, FPI Dibubarkan: Oposisi Mati di Negeri Demokrasi

Upaya Meretas Kapitalisme: Islam Sebagai Gerakan Pembebasan

Upaya Meretas Kapitalisme: Islam Sebagai Gerakan Pembebasan

Unit Penerbitan dan Pers Mahasiswa

HMJ Ilmu Ekonomi UIN Alauddin Makassar

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Kontak Kami

© anotasiar.id. All rights reserved

Explore
Kolom
About Us
Search
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman

© anotasiar. All rights reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist