Oleh: Jumardi
Kamis, 10 Juni 2021, dengan mengendarai motor saya menuju Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM). Setelah memarkir motor, saya berjalan ke arah kerumunan yang berada persis dibelakang gedung itu.
Dari kejauhan mereka tampak menikmati kopi sambil bermain game, juga bercengkarama satu sama lain. Dibelakang mobil bus yang berjejeran, saya menyapa salah satu dari mereka.
“ Assalamualaikum Pak”, saya mencoba menyapanya.
“ Walaikumussalam. Duduk disini, nak”, jawabnya ramah.
Ia adalah Zainuddin, supir bus kampus berusia 54 tahun. Sejak 1993, ia resmi menjadi sopir kampus, saat itu UIN Alauddin Makassar masih berstatus Institud Agama Islam Negeri.
Saya duduk di sampingnya, sembari menjelaskan tujuan mendatanginya.
Bapak dari Satu Anak ini merespon kami dengan begitu terbuka. Ia kemudian menceritakan perjalanan hidupnya setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Di tahun yang sama setelah lulus SMA, Ia memutuskan merantau ke Mangkoetana, Desa Sumber Agung bersama kawannya.
Disana Ia bekerja sebagai pendamping sopir (karnek mobil) truk proyek pengaspalan. Keahliannya mengotak aktik mesin mobil tidaklah membuatnya puas. Sesekali diwaktu luangnya, ia sempatkan belajar mengedarai mobil truk. Dari sinilah keahlian barunya muncul.
Selang beberapa tahun bekerja di proyek pengaspalan jalan, Zainuddin memutuskan menikahi perempuan asal Mangkutana.Pernikahannya digelar sederhana dan didamping seorang kawan yang menjelma seorang bapak kala itu.
Setelah menikah, Zainuddin mulai merasa malu dengan profesi yang ia geluti. Istrinya pun sering kali berbisik, mengatakan rasa malu jika orang-orang mengatakan atau menyinggung profesi suaminya sebagai karnek.
“ Terpaksa saya tanya bos kontraktorku, bilang bos bisa ka bawa mobil juga, karena malu istriku kalau di bilang karnek mobil ja” pintanya.
Keinginannya dipenuhi, ia melanjukan hidup dengan profesi supir truk kurang lebih 20 tahun di tanah rantauan. Dengan gaji Rp.350.000 diluar dari gaji pokok, uang makan dan lembur, baginya cukup memenuhi kebutuhan keluarganya waktu itu.
Zainuddin melakukan aktivitas sehari –harinya seperti biasa. Tiba-tiba ia mendapatkan surat dari tanah kelahirannya. Surat itu berisi panggilan pekerjaan, ditulis oleh Sepupu yang bekerja sebagai supir di kampus, yang diperintahkan mencari satu orang sopir dengan waktu seminggu.
Tak berfikir lama ia bergegas pulang ke kampung halaman, meninggalkan tanah rantau yang menghidupinya selama itu. Sehari setelah ia tiba di tanah karaeng, Zainuddin pun langsung ke kampus ditemani sepupunya.
Pagi itu jadi hari yang tak terlupakan untuknya. Ia langsung di tes mengendarai mobil, berkeliling di sekitaran kampus, lalu setelah itu pimpinan pun langsung memerintahkan untuk mengantarnya keluar daerah.
Di saat pimpinan telah memasuki mobil, iya mendengar celetupan.
“ Saya tes ko dulu ini keluar daerah nah,” ucap salah satu pimpinan.
“ Iye, Ustaz,”Jawabnya.
Suasana bus diisi pembicara akrap layaknya kawan lama yang baru bertemu.
“ Kemana ini Ustaz?” tanyanya.
“ Kita ke daerah bagian kebawa mi di Mangkoso, kau tahu ji itu dibilang Mangkoso?” jawab pimpinan kampus.
” Tidak tahu iya, Ustaz. Tapi nanti kita bertanya kalau sudah masuk mi di Barru karena nanti bilang ka kutau ji na lewat ki,” Zainuddin menjawabnya dengan sedikit candaan.
Selama perjalanan pimpinan bersantai sambil memantau bagaimana Zainuddin ini mengendarai mobil. Memasuki area Kabupaten Pangkep dengan kecepatan 70-80-an, pimpinan pun tertidur dalam perjalanan.
Melihat kondisi jalan tanpa tikungan tajam, ia menambah kecepatan sampai 100-an km/jam. Tak berselang lama pimpinan pun langsung terbangun dan berteriak.
“Allahu Akbar”, teriak pimpinan kampus dalam keadaan panik.
Bergegas, ia mengurangi laju mobil dan kembali dikecepatan 70-an km/jam dan melanjutkan perjalan dengan kecepatan tak lebih dari 80 km/jam.
“ Saya tes ki juga dulu ini Ustaz, sampai dimana kecepatan mobil yang bikin ki nyaman,” ucapnya.
Selepas dari perjalan keluar daerah itu, pimpinan pun langsung masuk melapor ke ruangan kepala Biro.
Keesokan harinya ia mendapati kabar, dirinya diterima menjadi sopir yang bertugas mengantar Pimpinan/Wakil Kordinator (Wakor) di Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais), sampai Wakor di Kopertais itu pensiun. Setelah Wakor di Kopertais itu pensiun Zainuddin pun di ambil alih Sekretarisanya.
Statusnya sebagai sopir honorer dengan gaji Rp.15.000/bulannya, berbanding jauh pada saat dia bekerja di proyek tambang.
“ Saya terima ji karena begitumi memang. Yahh, kita menjalani dan merasakan yang namanya kesengsaraan dulu, nanti baru kita menikmati manisnya,” ungkap sambil tersenyum.
Selama 13 tahun menjalankan profesi supir pimpinan kampus, akhirnya di tahun 2006 ia tetapkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan gaji sebanyak Rp. 2.500.000 setara gaji PNS golongan dua.
Tak sampai disitu, tiga tahun setelahnya, posisinya sebagai sopir Sekretaris Koordinator Kopertais berganti menjadi sopir bus Kampus. Penugasan dan jam kerja tidak menentu membuatnya harus siap setiap saat. Walaupun begitu sesekali ia kembali ditugaskan mengantar pimpinan.
Kini zainuddin menjadi salah satu dari lima supir bus kampus, selain Burhan, Syamsuddin, Saharuddin, dan Abdul Rahim. Mereka semua sedang asik bermain game sambil menikmati kopi di sekitar kami.
Zainuddin mulai menunjuk beberapa mobil bus di hadapannya.
“ Ada enam mobil bus, hanya ada empat yang masih layak operasi,” jelasnya.
Suka duka telah ia cicipi selama menjadi sopir bus. Apabila ada perintah pimpinan untuk mengantar mahasiswa ataupun diluar dari mahasiswa harus siap. Walaupun itu hanya di bayar dengan alakadarnya, tapi itu adalah tugas.
“Misalnya, dua juta yang harus di bayar tapi setengah dari itu ji uangnya mahasiswa, yah kita terima saja dan tetap harus jalan. Di situlah suka dukanya,” ucapnya lirih.
Dari sewa yang di berikan kepada sopir, itu juga di setor kepada pihak pengelola kendaraan untuk biaya perawatan sebanyak 50%.Selain itu resiko sebagai sopir bus, saat membawa muatan lebih.cSering kali kami jumpai saat membawa mahasiswa.
“Berdoa setiap kali berangkat, karena hidup di atas roda itu tidak gampang. Ibaratnya kaki kanan di penjara, dan kaki kiri di kuburan. kita sebagai sopir hidup di atas roda, roda berputar ekonomi lancar. Roda meletus matilah kita.” tutupnya.




