Anotasiar
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman
No Result
View All Result
  • Login
Anotasiar
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman
No Result
View All Result
  • Login
Anotasiar
No Result
View All Result
Feature
9 November 2021

Zainuddin Supir Bus Kampus: Roda Berputar Ekonomi Lancar

HMJ-IE
Feature

Zainuddin Supir Bus Kampus: Roda Berputar Ekonomi Lancar

HMJ-IE
9 November 2021
Zainuddin Supir Bus Kampus: Roda Berputar Ekonomi Lancar

Penulis saat mewawancarai narasumber saat sedang beristirahat di belakang Gedung Rekrorat

Oleh: Jumardi

Kamis, 10 Juni 2021, dengan mengendarai motor saya menuju Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM). Setelah memarkir motor, saya berjalan ke arah kerumunan yang berada persis dibelakang gedung itu.

Dari kejauhan mereka tampak menikmati kopi sambil bermain game, juga bercengkarama satu sama lain. Dibelakang mobil bus yang berjejeran, saya menyapa salah satu dari mereka.

“ Assalamualaikum Pak”, saya mencoba menyapanya.

BACA JUGA

Lika Liku Kampus Peradaban UIN Alauddin Makassar

Sejarah Dibalik Riuhnya Samata

“ Walaikumussalam. Duduk disini, nak”, jawabnya ramah.

Ia adalah Zainuddin, supir bus kampus berusia 54 tahun. Sejak 1993, ia resmi menjadi sopir kampus, saat itu UIN Alauddin Makassar masih berstatus Institud Agama Islam Negeri.

Saya duduk di sampingnya, sembari menjelaskan tujuan mendatanginya.

Bapak dari Satu Anak ini merespon kami dengan begitu terbuka. Ia kemudian menceritakan perjalanan hidupnya setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Di tahun yang sama setelah lulus SMA, Ia memutuskan merantau ke Mangkoetana, Desa Sumber Agung bersama kawannya.

Disana Ia bekerja sebagai pendamping sopir (karnek mobil) truk proyek pengaspalan. Keahliannya mengotak aktik mesin mobil tidaklah membuatnya puas. Sesekali diwaktu luangnya, ia sempatkan belajar mengedarai mobil truk. Dari sinilah keahlian barunya muncul.

Selang beberapa tahun bekerja di proyek pengaspalan jalan, Zainuddin memutuskan menikahi perempuan asal Mangkutana.Pernikahannya digelar sederhana dan didamping seorang kawan yang menjelma seorang bapak kala itu.

Setelah menikah, Zainuddin mulai merasa malu dengan profesi yang ia geluti. Istrinya pun sering kali berbisik, mengatakan rasa malu jika orang-orang mengatakan atau menyinggung profesi suaminya sebagai karnek.

“ Terpaksa saya tanya bos kontraktorku, bilang bos bisa ka bawa mobil juga, karena malu istriku kalau di bilang karnek mobil ja” pintanya.

Keinginannya dipenuhi, ia melanjukan hidup dengan profesi supir truk kurang lebih 20 tahun di tanah rantauan. Dengan gaji Rp.350.000 diluar dari gaji pokok, uang makan dan  lembur, baginya cukup memenuhi kebutuhan keluarganya waktu itu.

Zainuddin melakukan aktivitas sehari –harinya seperti biasa. Tiba-tiba ia mendapatkan surat dari tanah kelahirannya. Surat itu berisi panggilan pekerjaan, ditulis oleh Sepupu yang bekerja sebagai supir di kampus, yang diperintahkan mencari satu orang sopir dengan waktu seminggu.

Tak berfikir lama ia bergegas pulang ke kampung halaman, meninggalkan tanah rantau yang menghidupinya selama itu. Sehari setelah ia tiba di tanah karaeng, Zainuddin pun langsung ke kampus ditemani sepupunya.

Pagi itu jadi hari yang tak terlupakan untuknya. Ia langsung di tes mengendarai mobil, berkeliling di sekitaran kampus, lalu setelah itu pimpinan pun langsung memerintahkan untuk mengantarnya keluar daerah.

Di saat pimpinan telah memasuki mobil, iya mendengar celetupan.

“ Saya tes ko dulu ini keluar daerah nah,” ucap salah satu pimpinan.

“ Iye, Ustaz,”Jawabnya.

Suasana bus diisi pembicara akrap layaknya kawan lama yang baru bertemu.

“ Kemana ini Ustaz?” tanyanya.

“ Kita ke daerah bagian kebawa mi di Mangkoso, kau tahu ji itu dibilang Mangkoso?” jawab pimpinan kampus.

” Tidak tahu iya, Ustaz. Tapi nanti kita bertanya kalau sudah masuk mi di Barru karena nanti bilang ka kutau ji na lewat ki,” Zainuddin menjawabnya dengan sedikit candaan.

Selama perjalanan pimpinan bersantai sambil memantau bagaimana Zainuddin ini mengendarai mobil. Memasuki area Kabupaten Pangkep dengan kecepatan 70-80-an, pimpinan pun tertidur dalam perjalanan.

Melihat kondisi jalan tanpa tikungan tajam, ia menambah kecepatan  sampai 100-an km/jam. Tak berselang lama pimpinan pun langsung terbangun dan berteriak.

“Allahu Akbar”, teriak pimpinan kampus dalam keadaan panik.

Bergegas, ia mengurangi laju mobil dan kembali dikecepatan 70-an km/jam dan melanjutkan perjalan dengan kecepatan tak lebih dari 80 km/jam.

“ Saya tes ki juga dulu ini Ustaz, sampai dimana kecepatan mobil yang bikin ki nyaman,” ucapnya.

Selepas dari perjalan keluar daerah itu, pimpinan pun langsung masuk melapor ke ruangan kepala Biro.

Keesokan harinya ia mendapati kabar, dirinya diterima menjadi sopir yang bertugas mengantar Pimpinan/Wakil Kordinator (Wakor) di Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais), sampai Wakor di Kopertais itu pensiun. Setelah Wakor di Kopertais itu pensiun  Zainuddin pun di ambil alih Sekretarisanya.

Statusnya sebagai sopir honorer dengan gaji  Rp.15.000/bulannya, berbanding jauh pada saat dia bekerja di proyek tambang.

“ Saya terima ji karena begitumi memang. Yahh, kita menjalani dan merasakan yang namanya kesengsaraan dulu, nanti baru kita menikmati  manisnya,” ungkap sambil tersenyum.

Selama 13 tahun menjalankan profesi supir pimpinan kampus, akhirnya di tahun 2006 ia tetapkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan gaji sebanyak Rp. 2.500.000 setara gaji PNS golongan dua.

Tak sampai disitu, tiga tahun setelahnya, posisinya sebagai sopir Sekretaris Koordinator Kopertais berganti menjadi sopir bus Kampus. Penugasan dan jam kerja tidak menentu membuatnya harus siap setiap saat. Walaupun begitu sesekali ia kembali ditugaskan mengantar pimpinan.

Kini zainuddin menjadi salah satu dari lima supir bus kampus, selain Burhan, Syamsuddin, Saharuddin, dan  Abdul Rahim. Mereka semua sedang asik bermain game sambil menikmati kopi di sekitar kami.

Zainuddin mulai menunjuk beberapa mobil bus di hadapannya.

“ Ada enam mobil bus, hanya ada empat yang masih layak operasi,” jelasnya.

Suka duka telah ia cicipi selama menjadi sopir bus. Apabila ada perintah pimpinan untuk mengantar mahasiswa ataupun diluar dari mahasiswa harus siap. Walaupun itu hanya di bayar dengan alakadarnya, tapi itu adalah tugas.

“Misalnya, dua juta yang harus di bayar tapi setengah dari itu ji uangnya mahasiswa, yah kita terima saja dan tetap harus jalan.  Di situlah suka dukanya,” ucapnya lirih.

Dari sewa yang di berikan kepada sopir, itu juga di setor kepada pihak pengelola kendaraan untuk biaya perawatan sebanyak 50%.Selain itu resiko sebagai sopir bus, saat membawa muatan lebih.cSering kali kami jumpai saat membawa mahasiswa.

“Berdoa setiap kali berangkat, karena hidup di atas roda itu tidak gampang. Ibaratnya kaki kanan di penjara, dan kaki kiri di kuburan.  kita  sebagai sopir  hidup di atas roda, roda berputar  ekonomi lancar. Roda meletus matilah kita.” tutupnya.

Oleh: Jumardi

Kamis, 10 Juni 2021, dengan mengendarai motor saya menuju Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM). Setelah memarkir motor, saya berjalan ke arah kerumunan yang berada persis dibelakang gedung itu.

Dari kejauhan mereka tampak menikmati kopi sambil bermain game, juga bercengkarama satu sama lain. Dibelakang mobil bus yang berjejeran, saya menyapa salah satu dari mereka.

“ Assalamualaikum Pak”, saya mencoba menyapanya.

BACA JUGA

Lika Liku Kampus Peradaban UIN Alauddin Makassar

Sejarah Dibalik Riuhnya Samata

“ Walaikumussalam. Duduk disini, nak”, jawabnya ramah.

Ia adalah Zainuddin, supir bus kampus berusia 54 tahun. Sejak 1993, ia resmi menjadi sopir kampus, saat itu UIN Alauddin Makassar masih berstatus Institud Agama Islam Negeri.

Saya duduk di sampingnya, sembari menjelaskan tujuan mendatanginya.

Bapak dari Satu Anak ini merespon kami dengan begitu terbuka. Ia kemudian menceritakan perjalanan hidupnya setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Di tahun yang sama setelah lulus SMA, Ia memutuskan merantau ke Mangkoetana, Desa Sumber Agung bersama kawannya.

Disana Ia bekerja sebagai pendamping sopir (karnek mobil) truk proyek pengaspalan. Keahliannya mengotak aktik mesin mobil tidaklah membuatnya puas. Sesekali diwaktu luangnya, ia sempatkan belajar mengedarai mobil truk. Dari sinilah keahlian barunya muncul.

Selang beberapa tahun bekerja di proyek pengaspalan jalan, Zainuddin memutuskan menikahi perempuan asal Mangkutana.Pernikahannya digelar sederhana dan didamping seorang kawan yang menjelma seorang bapak kala itu.

Setelah menikah, Zainuddin mulai merasa malu dengan profesi yang ia geluti. Istrinya pun sering kali berbisik, mengatakan rasa malu jika orang-orang mengatakan atau menyinggung profesi suaminya sebagai karnek.

“ Terpaksa saya tanya bos kontraktorku, bilang bos bisa ka bawa mobil juga, karena malu istriku kalau di bilang karnek mobil ja” pintanya.

Keinginannya dipenuhi, ia melanjukan hidup dengan profesi supir truk kurang lebih 20 tahun di tanah rantauan. Dengan gaji Rp.350.000 diluar dari gaji pokok, uang makan dan  lembur, baginya cukup memenuhi kebutuhan keluarganya waktu itu.

Zainuddin melakukan aktivitas sehari –harinya seperti biasa. Tiba-tiba ia mendapatkan surat dari tanah kelahirannya. Surat itu berisi panggilan pekerjaan, ditulis oleh Sepupu yang bekerja sebagai supir di kampus, yang diperintahkan mencari satu orang sopir dengan waktu seminggu.

Tak berfikir lama ia bergegas pulang ke kampung halaman, meninggalkan tanah rantau yang menghidupinya selama itu. Sehari setelah ia tiba di tanah karaeng, Zainuddin pun langsung ke kampus ditemani sepupunya.

Pagi itu jadi hari yang tak terlupakan untuknya. Ia langsung di tes mengendarai mobil, berkeliling di sekitaran kampus, lalu setelah itu pimpinan pun langsung memerintahkan untuk mengantarnya keluar daerah.

Di saat pimpinan telah memasuki mobil, iya mendengar celetupan.

“ Saya tes ko dulu ini keluar daerah nah,” ucap salah satu pimpinan.

“ Iye, Ustaz,”Jawabnya.

Suasana bus diisi pembicara akrap layaknya kawan lama yang baru bertemu.

“ Kemana ini Ustaz?” tanyanya.

“ Kita ke daerah bagian kebawa mi di Mangkoso, kau tahu ji itu dibilang Mangkoso?” jawab pimpinan kampus.

” Tidak tahu iya, Ustaz. Tapi nanti kita bertanya kalau sudah masuk mi di Barru karena nanti bilang ka kutau ji na lewat ki,” Zainuddin menjawabnya dengan sedikit candaan.

Selama perjalanan pimpinan bersantai sambil memantau bagaimana Zainuddin ini mengendarai mobil. Memasuki area Kabupaten Pangkep dengan kecepatan 70-80-an, pimpinan pun tertidur dalam perjalanan.

Melihat kondisi jalan tanpa tikungan tajam, ia menambah kecepatan  sampai 100-an km/jam. Tak berselang lama pimpinan pun langsung terbangun dan berteriak.

“Allahu Akbar”, teriak pimpinan kampus dalam keadaan panik.

Bergegas, ia mengurangi laju mobil dan kembali dikecepatan 70-an km/jam dan melanjutkan perjalan dengan kecepatan tak lebih dari 80 km/jam.

“ Saya tes ki juga dulu ini Ustaz, sampai dimana kecepatan mobil yang bikin ki nyaman,” ucapnya.

Selepas dari perjalan keluar daerah itu, pimpinan pun langsung masuk melapor ke ruangan kepala Biro.

Keesokan harinya ia mendapati kabar, dirinya diterima menjadi sopir yang bertugas mengantar Pimpinan/Wakil Kordinator (Wakor) di Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais), sampai Wakor di Kopertais itu pensiun. Setelah Wakor di Kopertais itu pensiun  Zainuddin pun di ambil alih Sekretarisanya.

Statusnya sebagai sopir honorer dengan gaji  Rp.15.000/bulannya, berbanding jauh pada saat dia bekerja di proyek tambang.

“ Saya terima ji karena begitumi memang. Yahh, kita menjalani dan merasakan yang namanya kesengsaraan dulu, nanti baru kita menikmati  manisnya,” ungkap sambil tersenyum.

Selama 13 tahun menjalankan profesi supir pimpinan kampus, akhirnya di tahun 2006 ia tetapkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan gaji sebanyak Rp. 2.500.000 setara gaji PNS golongan dua.

Tak sampai disitu, tiga tahun setelahnya, posisinya sebagai sopir Sekretaris Koordinator Kopertais berganti menjadi sopir bus Kampus. Penugasan dan jam kerja tidak menentu membuatnya harus siap setiap saat. Walaupun begitu sesekali ia kembali ditugaskan mengantar pimpinan.

Kini zainuddin menjadi salah satu dari lima supir bus kampus, selain Burhan, Syamsuddin, Saharuddin, dan  Abdul Rahim. Mereka semua sedang asik bermain game sambil menikmati kopi di sekitar kami.

Zainuddin mulai menunjuk beberapa mobil bus di hadapannya.

“ Ada enam mobil bus, hanya ada empat yang masih layak operasi,” jelasnya.

Suka duka telah ia cicipi selama menjadi sopir bus. Apabila ada perintah pimpinan untuk mengantar mahasiswa ataupun diluar dari mahasiswa harus siap. Walaupun itu hanya di bayar dengan alakadarnya, tapi itu adalah tugas.

“Misalnya, dua juta yang harus di bayar tapi setengah dari itu ji uangnya mahasiswa, yah kita terima saja dan tetap harus jalan.  Di situlah suka dukanya,” ucapnya lirih.

Dari sewa yang di berikan kepada sopir, itu juga di setor kepada pihak pengelola kendaraan untuk biaya perawatan sebanyak 50%.Selain itu resiko sebagai sopir bus, saat membawa muatan lebih.cSering kali kami jumpai saat membawa mahasiswa.

“Berdoa setiap kali berangkat, karena hidup di atas roda itu tidak gampang. Ibaratnya kaki kanan di penjara, dan kaki kiri di kuburan.  kita  sebagai sopir  hidup di atas roda, roda berputar  ekonomi lancar. Roda meletus matilah kita.” tutupnya.

ARTIKEL TERKAIT

Seutas tali, ditengah jerami

Seutas tali, ditengah jerami

7 Mei 2026

Menolak Menjadi Sekrup, Menempatkan Kemanusiaan di Atas Angka Pertumbuhan

4 Mei 2026

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

29 April 2022

Resensi Buku: Kita Semua Harus Menjadi Feminis!

26 April 2022

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

26 Maret 2022

Populer

Seutas tali, ditengah jerami

Menolak Menjadi Sekrup, Menempatkan Kemanusiaan di Atas Angka Pertumbuhan

Resensi Film: Yuni, Perempuan yang berhasil keluar dari belenggu patriarki

Resensi Buku: Kita Semua Harus Menjadi Feminis!

Watak Mengintervensi dan Bentuk Polarisasi Pimpinan FEBI

Pimpinan FEBI Batasi Akses Berkegiatan Di Luar Kampus dan Blokir Anggaran Ormawa FEBI

Kirim Tulisan Jadilah bagian dan terlibat untuk perubahan dengan ikut berdiskusi dan berbagi gagasan kritis, edukatif dan progresif di anotasiar...» Kirim tulisanmu
Explore
Kolom
About Us
Search
Artikel Berikutnya

KAPITALISME DAN AGAMA

Ideologi Aparatus State

Ideologi Aparatus State

Resensi Buku: Praktik Pengerahan dan Kondisi Romusa Di Pertambangan Batu Bara Bayah

Resensi Buku: Praktik Pengerahan dan Kondisi Romusa Di Pertambangan Batu Bara Bayah

Unit Penerbitan dan Pers Mahasiswa

HMJ Ilmu Ekonomi UIN Alauddin Makassar

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Kontak Kami

© Anotasiar. All rights reserved.

Explore
Kolom
About Us
Search
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Liputan
    • Reportase
    • Investigasi
  • Opini
  • Sastra
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Resensi
    • Resensi Buku
    • Resensi Film
  • Info & Agenda
    • Jadwal Acara
    • Pengumuman

© anotasiar. All rights reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In