Di sela jemari yang masih berpaut erat, ada telunjuk yang tajam, mencari siapa yang berkhianat.
Kita genggam tangan namun melepas rasa, mencari-cari celah dalam tumpukan dosa.
Mata kita beradu, dipaksa menatap dalam satu garis, namun di balik dada, hati kita memunggungi dengan tragis.
Kita benci sunyi yang merayap di antara meja makan, tapi jauh lebih benci jika harus menjadi yang pertama dimaafkan.
Andai cinta punya bahasa yang jauh lebih sederhana, lebih tulus dari ego yang menganggap kalah sebagai hina.
Mungkin hari ini tawa kita sudah memecah udara, bukannya memelihara sepi yang kaku seperti pusara.
Kita lebih memilih menikam dengan diam yang membeku, menimbun rindu di bawah harga diri yang kaku.
Padahal kemenangan atas dirimu adalah duka bagiku, dan kejayaan egomu, hanyalah reruntuhan bagi kita berdua yang dulu.
Penulis: Senaphra

