Sore di tengah waktu yang perlahan menuju petang, di bawah pohon mangga yang cukup rimbun daunnya, saya duduk merenung. Berusaha menjawab tanya dalam kepala “Bagaimana Samata dulu?” dimana wilayah ini menjadi sentrum dibangunnya salah satu kampus megah UIN Alauddin Makassar, yang selanjutnya menjadi pusat administrasi kampus yang sebelumnya berada di Jln. Sultan Alauddin, Makassar. Tepatnya, Kampus ini didirikan di Kelurahan Samata, Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa. Setelah saya memastikan dan menyakinkan diri pada rasa penasaran yang mesti saya jawab diatas, khususnya dibalik lika-liku sejarah tempat berdiriya kampus tersebut. Saya memulai satu per satu pencarian, berikut catatan yang saya sajikan.
Perkembangan daerah Samata sejak berstatus kampung, berangsur-angsur menjadi desa sampai kini yang telah berstatus kelurahan, telah banyak mengalami perubahan yang begitu pesat. Hal ini dipengaruhi dengan banyaknya migrasi penduduk yang memutuskan untuk bermukim di Kelurahan Samata. Selain itu, Kampung Samata merupakan daerah tujuan karena adanya Kampus 2 UIN Alauddin Makassar selanjutnya disingkat UINAM dan banyaknya kehadiran pabrik industri. Hal ini dinilai sebagai ruang bagi roda perekonomian yang akan sama berkembangnya. Akibatnya untuk mengantisipasi lonjakan penambahan penduduk non-lokal, pembangunan infrastruktur, perumahan dan pemukiman berkembang sama pesatnya.
Kelurahan Samata yang kini sangat padat dengan banyaknya lalu Lalang kendaraan, dulunya hanya dipenuhi kebun ubi yang ditanam oleh masyarakat setempat. Dimana beberapa titik, infrastruktur jalan belum sebaik dan semudah hari ini untuk dilalui.“Ini dulu disini tidak ada jalanan raya, cuman kebun ubinya orang. Awal-awalna saja uin pindah masih jalanan tanah merah baru jalanan kecil,” Ujar Dg. Naba’ usia 47 tahun salah satu masyarakat lokal yang kini bekerja sebagai petugas keamanan kampus UIN Alauddin Makassar. Menurutnya, sebelum tahun 1986 Samata masih belum layak huni karna jauhnya akses dari pusat kota. Apalagi pemerintah belum memberikan fasilitas publik untuk masyarakat “Disini saja masuk PLN di Kel. Samata itu tahun 1986, terus itu bagian Pesantren Guppi naik kesana banyakmi rumah,” Lanjutnya.
Dilansir dari Jurnal Pemikir Sejarah dan Pendidikan Sejarah bahwa nama Saumata sendiri sudah ada sejak Zaman Kerajaan Gowa, Saumata pada masa Kerajaan Gowa termasuk kedalam derertan negeri yang disebut Kasuwiang Salapanga yang meliputi Kasuwiang Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling dan Sero. Hal ini dikonfirmasi oleh Dg. Naba “Itulah dikatakan batesalapang, ada Samata salah satunya disitu Namanya itu kaya Gallara Samata, Gallara Tombolo itu dia semacam DPR kalau sekarang, itu yang memilih Raja”.
“Itu Samata dulu namanya Desa Samata Kec. Sombaopu sebelumnya itu Namanya Desa Keresidenan Tamalate Kec.Tamalate terbentuk desa Samata pada tahun 1961 dengan kepala desa pertama Namanya H. Bani” tambah Dg. Naba. Selanjutnya awal berdiri desa Samata pada tahun 1961 dengan Kepala Desa pertama Bernama H.Muh.Saleh dg. Bani. Pada awal berdiriya, Samata meliputi empat dusun yaitu : Samata, Romangpolong, Paccinongang dan Pao-Pao dengan jumlah penduduk sebanyak 3.386 jiwa.
Samata menjadi desa di bawah kecamatan Sombaopu periode tahun 1971 karena adanya perubahan administratif kewilayahaan. Saat penduduk desa sudah memenuhi prasyarat pengembangan wilayah, maka Samata sebagai desa selanjutnya dibagi menjadi beberapa wilayah Desa. Desa Samata pada waktu itu dimekarkan menjadi 3 Desa, yaitu Samata, Romangpolong dan Paccinongang. Sedangkan Lingkungan Pao-Pao dilebur ke dalam Desa Paccinongang karena prasyarat untuk menjadi sebuah desa tidak terpenuhi.
Dengan lahirnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Desa dan Kelurahan. Maka Pemekaran daerah terjadi mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Hadirnya pemekaran kabupaten/kota diikuti dengan pemekaran kecamatan, maka pemekaran Kecamatan berimplikasi pada terbentuknya ibu kota kecamatan baru. Sejumlah desa berubah statusnya menjadi sebuah kelurahan. Hal ini berlaku pula atas daerah Samata berdiri, setelah mekar menjadi tiga desa, lewat peraturan pemerintah dan telah terpenuhinya syarat untuk menjadi kelurahan, akhirnya status desa atas daerah Samata tersebut berganti menjadi kelurahan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Dg. Naba “Pada tahun 1999 Kelurahan Samata dipecah menjadi 3 itu kelurahan samata, kelurahan romangpolong dan kelurahan paccinongan”.
Di masa 1981-1998 rumah pemukiman di kelurahan Samata masih dominan tradisional dan masyarakat lokal masih banyak yang berprofesi sebagai petani. Hal ini dikarenakan lahan untuk Bertani lebih dominan dan jumlah penduduk yang masih sangat minim bermukim di daerah Samata. Sehingga alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman belum banyak dilakukan. “Pada masa Pemerintahan Orde Baru dalam kurung waktu tahun 1981-1998 pemukiman masyarakat di Kelurahan Samata masih hanya berbentuk rumah tradisional yaitu rumah panggung dan mayoritas dari penduduknya berprofesi sebagai petani. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya lahan persawahan yang berada dalam Kelurahan Samata”(Hamdan, Namajuddin dan Rasid : 2009).
Setelah menjadi kelurahan, Samata memiliki area administrasi seluas 2,44 km2 atau 244 Ha. Berbatasan dengan Kota Makassar di sebelah utara, Romangpolong di sebelah selatan, Paccinongan di sebelah barat serta Kec. Bontomarannu di sebelah timur. Penamaan Samata sendiri pernah mengalami perubahan. Pada awalnya, Samata bernama Saumata yang berasal dari dua suku kata yaitu Sau dan Mata menjadi satu suku kata yaitu Saumata. Saumata mengalami suatu penghapusan kata menjadi Samata. Pengertian Sau sendiri dalam bahasa masyarakat setempat diambil dari kata Assau artinya: Nyaman, Sedap, Puas dan Segar. Mata artinya salah satu panca indera yang fungsinya untuk melihat. Jadi, Saumata dapat diartikan sebagai sedap/nyaman di pandang mata, segar mata memandang, atau puas mata memandang.
Sulkifli 29 tahun seorang warga lokal yang tinggal diperbatasan Samata Patalassang mengakui “Dulu saat raja-raja ingin mencuci mata mereka ke Samata karena dulu di Samata bagus pemandangannya, kemudian banyak perempuan yang dianggap cantik pada masanya yang lahir dan besar di daerah sini”
Namun setelah terjadinya peristiwa pembantaian oleh Westerling yang dilakukan Belanda di tahun 1946-1947 di Saumata. Akibat kejadian tersebut pemerintah belanda membubarkankan Saumata yang termasuk wilayah bate salapang. Akhirnya Saumata dijadikan sebagai pemerintahan kampung dalam wilayah Distrik Tombolo dan bernama Kampung Samata.
Penulis : Nur Fadhilah
Editor : Abrisal dan Uzair




