{"id":5878,"date":"2021-11-09T03:14:13","date_gmt":"2021-11-09T03:14:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.anotasiar.id\/?p=5878"},"modified":"2021-11-09T03:14:13","modified_gmt":"2021-11-09T03:14:13","slug":"zainuddin-supir-bus-kampus-roda-berputar-ekonomi-lancar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/09\/11\/2021\/zainuddin-supir-bus-kampus-roda-berputar-ekonomi-lancar\/","title":{"rendered":"Zainuddin Supir Bus Kampus: Roda Berputar Ekonomi Lancar"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Jumardi<\/strong><\/p>\n<p>Kamis, 10 Juni 2021, dengan mengendarai motor saya menuju Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM). Setelah memarkir motor, saya berjalan ke arah kerumunan yang berada persis dibelakang gedung itu.<\/p>\n<p>Dari kejauhan mereka tampak menikmati kopi sambil bermain game, juga bercengkarama satu sama lain. Dibelakang mobil bus yang berjejeran, saya menyapa salah satu dari mereka.<\/p>\n<p>\u201c Assalamualaikum Pak\u201d, saya mencoba menyapanya.<\/p>\n<p>\u201c Walaikumussalam. Duduk disini, nak\u201d, jawabnya ramah.<\/p>\n<p>Ia adalah Zainuddin, supir bus kampus berusia 54 tahun. Sejak 1993, ia resmi menjadi sopir kampus, saat itu UIN Alauddin Makassar masih berstatus Institud Agama Islam Negeri.<\/p>\n<p>Saya duduk di sampingnya, sembari menjelaskan tujuan mendatanginya.<\/p>\n<p>Bapak dari Satu Anak ini merespon kami dengan begitu terbuka. Ia kemudian menceritakan perjalanan hidupnya setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Di tahun yang sama setelah lulus SMA, Ia memutuskan merantau ke Mangkoetana, Desa Sumber Agung bersama kawannya.<\/p>\n<p>Disana Ia bekerja sebagai pendamping sopir (karnek mobil) truk proyek pengaspalan. Keahliannya mengotak aktik mesin mobil tidaklah membuatnya puas. Sesekali diwaktu luangnya, ia sempatkan belajar mengedarai mobil truk. Dari sinilah keahlian barunya muncul.<\/p>\n<p>Selang beberapa tahun bekerja di proyek pengaspalan jalan, Zainuddin memutuskan menikahi perempuan asal Mangkutana.Pernikahannya digelar sederhana dan didamping seorang kawan yang menjelma seorang bapak kala itu.<\/p>\n<p>Setelah menikah, Zainuddin mulai merasa malu dengan profesi yang ia geluti. Istrinya pun sering kali berbisik, mengatakan rasa malu jika orang-orang mengatakan atau menyinggung profesi suaminya sebagai karnek.<\/p>\n<p>\u201c Terpaksa saya tanya bos kontraktorku, bilang bos bisa <em>ka<\/em> bawa mobil juga, karena malu istriku kalau di bilang karnek mobil <em>ja<\/em>\u201d pintanya.<\/p>\n<p>Keinginannya dipenuhi, ia melanjukan hidup dengan profesi supir truk kurang lebih 20 tahun di tanah rantauan. Dengan gaji Rp.350.000 diluar dari gaji pokok, uang makan dan\u00a0 lembur, baginya cukup memenuhi kebutuhan keluarganya waktu itu.<\/p>\n<p>Zainuddin melakukan aktivitas sehari \u2013harinya seperti biasa. Tiba-tiba ia mendapatkan surat dari tanah kelahirannya. Surat itu berisi panggilan pekerjaan, ditulis oleh Sepupu yang bekerja sebagai supir di kampus, yang diperintahkan mencari satu orang sopir dengan waktu seminggu.<\/p>\n<p>Tak berfikir lama ia bergegas pulang ke kampung halaman, meninggalkan tanah rantau yang menghidupinya selama itu. Sehari setelah ia tiba di tanah karaeng, Zainuddin pun langsung ke kampus ditemani sepupunya.<\/p>\n<p>Pagi itu jadi hari yang tak terlupakan untuknya. Ia langsung di tes mengendarai mobil, berkeliling di sekitaran kampus, lalu setelah itu pimpinan pun langsung memerintahkan untuk mengantarnya keluar daerah.<\/p>\n<p>Di saat pimpinan telah memasuki mobil, iya mendengar celetupan.<\/p>\n<p>\u201c Saya tes <em>ko<\/em> dulu ini keluar daerah <em>nah<\/em>,\u201d ucap salah satu pimpinan.<\/p>\n<p>\u201c Iye, Ustaz,\u201dJawabnya.<\/p>\n<p>Suasana bus diisi pembicara akrap layaknya kawan lama yang baru bertemu.<\/p>\n<p>\u201c Kemana ini Ustaz?\u201d tanyanya.<\/p>\n<p>\u201c Kita ke daerah bagian kebawa <em>mi<\/em> di Mangkoso, kau tahu <em>ji<\/em> itu dibilang Mangkoso?\u201d jawab pimpinan kampus.<\/p>\n<p>&#8221; Tidak tahu iya, Ustaz. Tapi nanti kita bertanya kalau sudah masuk <em>mi<\/em> di Barru karena nanti bilang <em>ka<\/em> kutau <em>ji na<\/em> lewat <em>ki<\/em>,\u201d Zainuddin menjawabnya dengan sedikit candaan.<\/p>\n<p>Selama perjalanan pimpinan bersantai sambil memantau bagaimana Zainuddin ini mengendarai mobil. Memasuki area Kabupaten Pangkep dengan kecepatan 70-80-an, pimpinan pun tertidur dalam perjalanan.<\/p>\n<p>Melihat kondisi jalan tanpa tikungan tajam, ia menambah kecepatan\u00a0 sampai 100-an km\/jam. Tak berselang lama pimpinan pun langsung terbangun dan berteriak.<\/p>\n<p>\u201cAllahu Akbar\u201d, teriak pimpinan kampus dalam keadaan panik.<\/p>\n<p>Bergegas, ia mengurangi laju mobil dan kembali dikecepatan 70-an km\/jam dan melanjutkan perjalan dengan kecepatan tak lebih dari 80 km\/jam.<\/p>\n<p>\u201c Saya tes <em>ki<\/em> juga dulu ini Ustaz, sampai dimana kecepatan mobil yang bikin <em>ki<\/em> nyaman,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Selepas dari perjalan keluar daerah itu, pimpinan pun langsung masuk melapor ke ruangan kepala Biro.<\/p>\n<p>Keesokan harinya ia mendapati kabar, dirinya diterima menjadi sopir yang bertugas mengantar Pimpinan\/Wakil Kordinator (Wakor) di Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais), sampai Wakor di Kopertais itu pensiun. Setelah Wakor di Kopertais itu pensiun \u00a0Zainuddin pun di ambil alih Sekretarisanya.<\/p>\n<p>Statusnya sebagai sopir honorer dengan gaji\u00a0 Rp.15.000\/bulannya, berbanding jauh pada saat dia bekerja di proyek tambang.<\/p>\n<p>\u201c Saya terima <em>ji<\/em> karena begitumi memang. Yahh, kita menjalani dan merasakan yang namanya kesengsaraan dulu, nanti baru kita menikmati\u00a0 manisnya,\u201d ungkap sambil tersenyum.<\/p>\n<p>Selama 13 tahun menjalankan profesi supir pimpinan kampus, akhirnya di tahun 2006 ia tetapkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan gaji sebanyak Rp. 2.500.000 setara gaji PNS golongan dua.<\/p>\n<p>Tak sampai disitu, tiga tahun setelahnya, posisinya sebagai sopir Sekretaris Koordinator Kopertais berganti menjadi sopir bus Kampus. Penugasan dan jam kerja tidak menentu membuatnya harus siap setiap saat. Walaupun begitu sesekali ia kembali ditugaskan mengantar pimpinan.<\/p>\n<p>Kini zainuddin menjadi salah satu dari lima supir bus kampus, selain Burhan, Syamsuddin, Saharuddin, dan\u00a0 Abdul Rahim. Mereka semua sedang asik bermain game sambil menikmati kopi di sekitar kami.<\/p>\n<p>Zainuddin mulai menunjuk beberapa mobil bus di hadapannya.<\/p>\n<p>\u201c Ada enam mobil bus, hanya ada empat yang masih layak operasi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Suka duka telah ia cicipi selama menjadi sopir bus. Apabila ada perintah pimpinan untuk mengantar mahasiswa ataupun diluar dari mahasiswa harus siap. Walaupun itu hanya di bayar dengan alakadarnya, tapi itu adalah tugas.<\/p>\n<p>\u201cMisalnya, dua juta yang harus di bayar tapi setengah dari itu <em>ji<\/em> uangnya mahasiswa, yah kita terima saja dan tetap harus jalan.\u00a0 Di situlah suka dukanya,\u201d ucapnya lirih.<\/p>\n<p>Dari sewa yang di berikan kepada sopir, itu juga di setor kepada pihak pengelola kendaraan untuk biaya perawatan sebanyak 50%.Selain itu resiko sebagai sopir bus, saat membawa muatan lebih.cSering kali kami jumpai saat membawa mahasiswa.<\/p>\n<p>\u201cBerdoa setiap kali berangkat, karena hidup di atas roda itu tidak gampang. Ibaratnya kaki kanan di penjara, dan kaki kiri di kuburan.\u00a0 kita\u00a0 sebagai sopir\u00a0 hidup di atas roda, roda berputar\u00a0 ekonomi lancar. Roda meletus matilah kita.\u201d tutupnya.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Jumardi Kamis, 10 Juni 2021, dengan mengendarai motor saya menuju Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM). Setelah memarkir motor, saya berjalan ke arah kerumunan yang berada persis dibelakang gedung itu. Dari kejauhan mereka tampak menikmati kopi sambil bermain game, juga bercengkarama satu sama lain. Dibelakang mobil bus yang berjejeran, saya menyapa salah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5879,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[183],"tags":[],"yst_prominent_words":[],"class_list":["post-5878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-feature"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5878"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5878\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5880,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5878\/revisions\/5880"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5879"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5878"},{"taxonomy":"yst_prominent_words","embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/yst_prominent_words?post=5878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}