{"id":5830,"date":"2021-10-20T05:21:56","date_gmt":"2021-10-20T05:21:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.anotasiar.id\/?p=5830"},"modified":"2021-10-20T05:21:56","modified_gmt":"2021-10-20T05:21:56","slug":"lika-liku-kampus-peradaban-uin-alauddin-makassar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/20\/10\/2021\/lika-liku-kampus-peradaban-uin-alauddin-makassar\/","title":{"rendered":"Lika Liku Kampus Peradaban UIN Alauddin Makassar"},"content":{"rendered":"<p>Gedung megah yang berada di pinggiran jalan Sultan Alauddin Makassar, dan dihiasi beberapa pepohonan yang tumbuh subur nan indah di sekitarnya. menjadikan tempat itu begitu sejuk dan nyaman dipandang dan dijadikan tempat nongkrong bagi sebagian mahasiswa dan masyarakat sekitar. Dari luar gedung itu tampak kecil dan sempit, tetapi didalamnya terdapat beberapa gedung yang berdiri kokoh dan menjadi pusat beraktifitas bagi mahasiswa dan para birokrasi kampus. Gedung tersebut merupakan kampus hijau UIN Alauddin Makassar.<\/p>\n<p>Sesungguhnya, kampus ini cukup strategis karena letaknya yang berada di pusat kota Makassar dan tepat berdiri di pinggiran jalan poros Sultan Alauddin, hal ini menjadikan kampus UIN Aladuddin Makassar sangat mudah diakses oleh mahasiswa.<\/p>\n<p>Kampus ini dulunya adalah Fakultas cabang dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Antara tahun 1965-2005 terjadi beberapa perubahan status. Pada rentan waktu tersebut dengan adanya pertimbangkan saran dari masyarakat dan pemerintah, UIN Alauddin Makassar berubah menjadi Universitas berdasar pada landasan hukum peraturan presiden nomor 27 tahun 1963 menyatakan tentang sekurang-kurangnya tiga jenis Fakultas dengan keputusan menteri agama dapat digabung menjadi Institusi Agama Islam Negeri tersendiri, adapun fakultas yang pertama yakni Fakultas Syari\u2019ah, Tarbiyah, dan Ushuluddin. Maka tanggal 10 November 1965 resmi berstatus mandiri dengan nama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar.<\/p>\n<p>Penamaan IAIN dengan menggunakan kata Alauddin adalah sebagai simbol penghargaan terhadap raja Gowa yang pertama memeluk Islam. Gowa juga merupakan salah satu kerajaan besar di Makassar. Dengan nama Alauddin ini, IAIN Alauddin diharapkan dapat menjadi seperti kerajaan Gowa yang membawa kejayaan Islam di Sulawesi Selatan. Pemberian nama \u201cAlauddin\u201d ini pertama kali dikemukakan oleh pendiri IAIN Alauddin, diantaranya Andi Pangeran Petta Rani adalah cucu atau turunan dari Sultan Alauddin yang juga mantan gubernur Sulawei Selatan dan Ahmad Makkarausu Amansyah seorang ahli sejarah.<\/p>\n<p>Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan serta banyaknya perubahan mendasar atas lahirnya undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 2 tahun 1989, IAIN Alauddin Makassar resmi berubah menjadi UIN Alauddin Makassar pada tanggal 10 Oktober 2005.<\/p>\n<p>Dari perubahan nama tersebut membuat UIN Alauddin Makassar perkembang pesat dan menjadi salah satu Universitas Islam ternama di Indonesia, tercatat pada tahun 2021 kampus UIN Alauddin Makassar masuk dalam peringkat 10 kampus Islam terbaik di Indonesia. Inilah pencapaian terbaik yang diperoleh sejak didirikannya Universitas ini.<\/p>\n<p>Lewat perkembangan yang di alami kampus UIN Alauddin Makassar berimbas terhadap bertambahnya peminat kampus, membuat birokrasi memutar otak dan mengambil langkah taktis dalam mengatasi peningkatan jumlah peminat kampus tersebut, dan hasilnya kampus UIN Alauddin Makassar yang dulunya berada di Jl. Sultan Alauddin berpindah ke daerah Samata.<\/p>\n<p>Pada tahun 2009 pembangunan gedung di kampus II UIN Alauddin Makassar mulai berjalan secara massif dan terus dikembangkang hingga saat ini.<\/p>\n<p>\u201cNah yang kedua, ada memangmi kampus UIN disini tapi hanya dua Fakultas teknik sama kesehatan, pembangunan gedugnnya ini dimulai pada tahun 2009\u201d kata Pak Farid selaku staf di UIN Alauddin Makassar.<\/p>\n<p>Pemindahan dari Alauddin ke Samata dilakukan karena adanya pembagian sektoral di Makassar, dimana sektor pendidikan berada di daerah Samata keluharan Somba Opu. Pemilihan daerah ini, dikarenakan lokasi yang terdekat dari pusat kota. Dulunya tempat ini adalah hutan belantara, dimana tidak adanya kos-kosan, penjual dan akses jalan yang sulit.<\/p>\n<p>\u201cHutan belantara dulu disini, kita juluki dulu kampus ini, kampus ditengah hutan. Kos-kosan tidak ada, penjual-penjual tidak ada, akses jalanan jelek\u201d lanjut Pak Farid<\/p>\n<p>Proses pemindahan kampus tak berjalan begitu saja, banyak hambatan yang dilalui oleh birokrasi kampus dan mahasiswa. Terutamanya untuk mahasiswa karena kondisi sekitar kampus yang masih sangat minim tempat tinggal berupa kos dan kontrakan selain itu karna akses jalan yang sulit membuat mahasiswa terkendala akan alat transportasi.<\/p>\n<p>Awalnya pemindahan ini memicu banyak konflik antara birokrasi kampus dengan mahasiswa, sehingga terjadi aksi penolakan yang di lakukan mahasiswa. akan Tetapi aksi ini tidak ditindaklanjuti oleh pihak birokrasi dan tetap memindahkan sistem administrasi.<\/p>\n<p>\u201cOrang kita demo dulu, mahasiswa tidak sepakat pindah dari kampus satu kesini karena yang pertama jauh dan yang kedua jalan serta semua administrasi pindah ke kampus dua yah mau tidak mau\u201d sambung pak Farid<\/p>\n<p>Pemindahan kampus UIN Alauddin makassar memiliki banyak polemik terhadap mahasiswa lama dikarenakan tempat tinggal yang berada di sekitaran alauddin. Maka dari itu kampus memberikan solusi dengan pemindahan secara bertahap untuk mahasiswa lama dan untuk mahasiswa baru langsung di kuliahkan di kampus II UIN Alauddin yang berada di Samata.<\/p>\n<p>\u201cCuman yang agak berubah itu senior-seniorku mereka rata-rata kos disekitar kampus satu dan kuliahnya dikampus dua dengan tranportasi yang kurang\u201d kata Nazliah Mutahar S.E.<\/p>\n<p>Kampus juga menyediakan transportasi berupa pete-pete (Angkutan Umum) dari kampus Alauddin ke kampus Samata untuk mahasiswa yang tak memiliki kendaraan. Namun, pete-pete ini memiliki jadwal keberangkatan tersendiri untuk ke Samata. Namun sayangnya hal tersebut belum menjadi solusi efektif terhadap masalah transportasi yang dihadapi mahasiswa, karna adanya jadwal keberangkatan mengharuskan mahasiswa untuk berburu waktu dan tak dapat menyesuaikan dengan jadwal kuliahnya.<\/p>\n<p>Perkembangan dan pembangunan kampus II UIN Alauddin Makassar yang berada di samata terus dilakukan sampai sekarang, hal ini terlihat dengan banyaknya pembangunan gedung baru yang saat ini masih berlangsung berupa masjid, pasca sarjana dan beberapa gedung lainnya. Namun lewat pembangunan yang di lakukan di kampus II UIN Alauddin Makassar tak mengurangi Pembangunan di kampus I, terlihat dari pembangunan Training Center dan rumah sakit. Training Center ini kadang kala dipergunakan sebagai tempat rapat birokrasi kampus dan juga sebagai Gedung pernikahan.<\/p>\n<p>Kampus I yang berada di jl. Sultan Alauddin saat ini ditempati untuk jurusan kedokteran karena laboratorium untuk kedokteran masih berada di kampus I Alauddin guna meminimalisir tempat di fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan kampus II UIN Alauddin yang ada di Samata.<\/p>\n<p>Dengan segala perkembangan dan tingkat peminat UIN Alauddin Makassar yang tiap tahunnya terus bertambah maka dari itu birokrasi kampus sangat gencar meningkatkan pembangunan dalam hal infrastruktur dan pengembangan pengetahuan seperti lahirnya beberapa jurusan serta fakultas.<br \/>\nPada tahun ini tercatat ada 8 fakultas sebagai pondasi pengembangan pengetahuan di UIN Alauddin Makassar, yaitu Fak. Tarbiyah dan Keguruan, Fak. Sains dan Teknologi, Fak. Ushuluddin Filsafat dan Politik, Fak. Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Fak. Syariah dan Hukum, Fak. Adab dan Humaniora, Fak. Dakwah dan Komunikasi, dan Fak. Ekonomi dan Bisnis Islam.<\/p>\n<p><strong>Penulis : Erninda Ananda Salju<\/strong><\/p>\n<p><strong>Editor\u00a0 : Redaksi Anotasiar<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gedung megah yang berada di pinggiran jalan Sultan Alauddin Makassar, dan dihiasi beberapa pepohonan yang tumbuh subur nan indah di sekitarnya. menjadikan tempat itu begitu sejuk dan nyaman dipandang dan dijadikan tempat nongkrong bagi sebagian mahasiswa dan masyarakat sekitar. Dari luar gedung itu tampak kecil dan sempit, tetapi didalamnya terdapat beberapa gedung yang berdiri kokoh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5831,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[183],"tags":[],"yst_prominent_words":[],"class_list":["post-5830","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-feature"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5830","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5830"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5830\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5832,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5830\/revisions\/5832"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5831"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5830"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5830"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5830"},{"taxonomy":"yst_prominent_words","embeddable":true,"href":"https:\/\/anotasiar.com\/ie\/wp-json\/wp\/v2\/yst_prominent_words?post=5830"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}