Tulisan ini bermula setelah saya menikmati santapan sahur sederhana ke-enam di bulan ramadan tahun 2021 sajian dua wanita luar (ibu dan nenek) yang memiliki perbedaan sifat di ranah aksidental (yang satu hampir setiap hari marah-marah sama saya dan yang satu seumur hidup saya belum pernah dimarahi :v). Walaupun begitu, beliau memiliki kesamaan sifat di ranah substansial (sama-sama penyayang tentunya).
Santapan sahur saat itu terasa jauh lebih nikmat karena baru saja tim sepakbola kegemaran saya yaitu Chelsea FC berhak melaju ke babak Final FA Cup setelah mengalahkan Manchester City dengan skor akhir 1-0 (untuk fans Manchester City jangan sakit hati dulu, tetap pantengin tulisan ini karena tulisan ini tidak ada hubungannya dengan kekalahan tim kalian). Dini hari itu, disempurnakan dengan segelas kopi dan stok tembakau yang baru saja saya beli dimalam hari sebelumnya.
Habis berbatang-batang tembakau saya isap sambil iseng-iseng melihat status-status orang di WhatsApp dan hampir seluruhnya tidak ada yang menarik bagi saya. Namun, ada salah satu status di WhatsApp tersebut yang membuat saya kaget dan awalnya tidak percaya.
Isinya adalah screenshot dari tweet Feby Indirani di Twitter. Tweet tersebut merupakan suatu bentuk respon kemarahan yang diungkapkan dengan nada satire terhadap pernyataan Ustaz Yusuf Mansyur di acara salah satu stasiun televisi swasta. Dalam acara tersebut, Feby Indirani mengutip dalam tweet nya bahwa Ustaz Yusuf Mansyur mengatakan “ Mohon maaf nih, kalau anda miskin, coba cek, pasti anda kurang ibadah”.
Melihat itu, saya masih meragukan kebenerannya dan langsung bergumam dalam hati, “masa iya Ustaz bisa berpikiran sepicik itu”.
Setelah mengecek di berbagai sumber, astagfirullah ternyata memang benar Ustaz Yusuf Mansyur mengatakan hal yang demikian bahwa orang miskin itu karena kurang beribadah.
Miskin karena Kurang Beribadah? Kesalahan Berpikir dan Berbahaya
Kemiskinan dan ibadah merupakan dua hal yang berbeda dan tidak ada relevansinya. Kemiskinan merupakan suatu masalah sosial yang bersifat material yang hadir dari hubungan horizontal manusia dengan manusia lain. Sedangkan, ibadah merupakan suatu hal yang bersifat spiritual dan berkenaan dengan hubungan vertikal setiap individu dengan Tuhan.
Ini sama halnya dengan Menteri Agama Mukti Ali di masa Orde Baru yang berupaya mengkritik teori-teori Karl Marx menggunakan pendekatan puasa Ramadan. Mukti Ali pun di kritik oleh Ahmad Wahib melalui catatan hariannya. Menurutnya, objek ajaran adalah pribadi-pribadi, sedangkan objek ajaran historis materialisme adalah masyarakat. Jadi, kurang relevan untuk membandingkan keduanya (Wahib, 2016:139).
Dengan menganggap bahwa orang miskin karena kurang beribadah, Ustad Yusuf Mansyur terjerumus ke dalam kesalahan berpikir yang disebut oleh Jalaluddin Rahmat dalam Bukunya berjudul Rekayasa Sosial dengan istilah Pos Hoc Ergo Propter Hoc. Singkatnya, Pos Hoc Ergo Propter Hoc merupakan suatu bentuk kesalahan berpikir yang dalam melihat akibat dari sebab yang sebenarnya tidak memiliki ketersangkut-putan.
Tentu, sangat lucu dan sulit untuk diterima pernyataan yang ahistoris, tidak hadap kondisi dan tidak kontekstual dari orang yang biasa disebut di berbagai media sebagai Uztas Kondang tersebut.
Pernyataan bahwa orang miskin karena kurang beribadah yang keluar dari mulut orang yang memiliki citra baik di masyarakat menurut saya berbahaya. Karena bisa saja karena citra baik itu maka pernyataan tersebut diyakini oleh masyarakat, dan kaum miskin itu sendiri. Dan, ini akan berimplikasi untuk pandangan masyarakat dalam melihat kemiskinan serta kaum miskin yang tidak sadar akan kondisi ketertindasan yang dihadapi dan juga akan berimplikasi pada perlawanan kaum miskin untuk menuntut kehidupan yang berkeadilan.
Miskin Adalah Proses Pemiskinan
Kemiskinan merupakan akibat dari proses pemiskinan (Fakih, 2010:12). Kemiskinan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit atau sesuatu yang mengada sejak azali malainkan kemiskinan adalah sesuatu yang bersifat meterial, dalam artian muncul, berkembang, dan dilanggengkan dalam sejarah manusia.
Tentu sangat mencengangkan bagi kita, dimana ada orang yang hidup dalam serba keterbatasan atau bahkan kekuarangan dan itu jumlahnya mayoritas, sedangkan ada orang yang hidup dalam jumlah kekayaan yang melimpah ruah dan jumlahnya sangat minoritas. Orang terkaya di Indonesia menurut April 2021 dalam menurut Forbes merupakan seorang korporasi besar yang memiliki jumlah kekayaan sekitar Rp. 271,15 Triliun. Jumlah kekayaan itu didapatkan melalui bisnis tembakau, kelapa sawit, properti, dan melakukan investasi di dalam salah satu bank sentral di Asia.
Tidak mungkin, dalam menjalankan proses produksi dengan usaha sebanyak itu dijalankan dengan seorang diri, tentu ia membutuhkan tenaga kerja. Dalam proses produksi inilah terjadi pencurian nilai lebih atau adanya keringat yang tidak terbayarkan dari tenaga kerja. Dan itulah yang ditransformasikan ke dalam bentuk laba/keuntungan.
Negara yang seharusnya hadir untuk menciptakan keadilan masyarakat justru tenggelam dalam struktur relasi sosial kapitalistik tersebut. Negara terlanjur dikuasai oleh sindikat bandit telah memupuk kekayaan yang terlampau berlebihan: dari 178 perusahaan go public di Indonesia, 67,1% dikuasai oleh keluarga bisnis dan hanya 5,1% di tangan publik, 5 keluarga bisnis menguasai 40,7% dan 15 keluarga menguasai 61,7% dari seluruh kapitalisasi pasar di Indonesia (Prasetyo, 2007:85).
Negara ternyata tidak sekuat apa yang kita harapkan. Demi mengejar pertumbuhan ekonomi yang pendapatan golongan kaya yang jumlahnya minoritas tersebut, peran negara dilucuti. Di hadapan kapital, negara seakan menjadi pelayan atas produksi dan reproduksi kapital yang selalu haus akan keuntungan yang disiap menerkam siapa saja dihadapannya, tidak terkecuali orang miskin itu sendiri. Lagi-lagi orang miskin menjadi korban keganasan kapital.
Kekuatan Sosial Agama yang Tereduksi
Selama ini kita telah dimuakkan dengan retorika-retorika agawaman yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakan sebuah takdir Tuhan kepada orang miskin yang harus dijalani dengan sabar dan sabar. Ternyata, ada yang tidak kalah memuakkan dari pernyataan tersebut dan lagi-lagi keluar dari mulut yang biasa melanjutkan ayat suci bahwa orang miskin karena kurang beribadah.
Agama hari ini seakan menjauh dari permasalahan konkret umat hari ini. Tidak ada lagi kekuatan agama seperti di masa Rasulullah Muhammad Saw yang berupaya mengentaskan permasalahan sosial umat dan membentuk tatanan sosial yang berkeadilan dengan semangat Egaliternya.
Para agawaman pun ikut juga terlelap dalam pusaran kapital. Tidak ada upaya interupsi bahkan cenderung mengaminkan.
Jika sudah seperti itu, lantas kemana lagi kaum miskin akan menyandarkan harapannya? Persoalan yang dihadapi kian kompleks, mulai dari penetrasi brutal dari kapital, peran negara yang kian hari kian terlucuti, dan ketidakmampuan agama hari untuk menjawab persoalan kemiskinan dan seakan melegitimasi.
Penulis : Nan Dito Slank
Editor : Tim Anotasiar.ID




